PEDAGOGY ANDRAGOGY dan HEUTAGOGY

Dalam pendidikan, dua pendekatan yang telah cukup kita kenal adalah Pedagogy dan Andragogy.

Secara sederhana bisa kita katakan bahwa dalam Pedagogy subjek pendidikan adalah individu berusia kanak-kanak, dan dalam Andragogy subjek pendidikan adalah individu (yang telah dianggap) dewasa. Paling tidak, bagi saya pribadi, ini adalah pemahaman termudah yang saya jadikan pegangan tentang kedua pendekatan ini 😁

Namun, ada beberapa hal menarik yang saya temukan saat browsing tentang Pedagogy, yaitu secara historikal, dalam mendidik anak ada 2 peran yang terlibat. Yaitu :

1. Pedagogues (yang berperan memberi supervisi moral; kurang lebih seperti “jika kamu melakukan ini (X), maka itu (Y)” ) –> sepertinya dalam bahasa Indonesia kita sering menggunakan ungkapan pendidikan untuk hal ini.

2. Didaskalos (yang berperan menyampaikan konten / materi ajar). Berbeda dengan pendidikan, sepertinya hal ini lebih kita kenal sebagai pembelajaran.

Yang saya pahami tentang Pedagogy ini, anak tidak diperlukan untuk menyadari bahwa sedang menjalani proses belajar ataupun pendidikan.

Tentang Andragogy, sepertinya Malcom Knowles cukup menginspirasi banyak tulisan dan pengaplikasian tentang pembelajaran pada orang dewasa.

Ciri Andragogy menurut Knowles adalah individu mengambil inisiatif -dengan ataupun tanpa bantuan individu lain- dalam hal-hal berikut :
1. Mendiagnosa kebutuhan belajar (learning needs)
2. Merumuskan tujuan belajar
3. Mengidentifikasi resources (baik dalam hal manusia ataupun material) untuk belajar
4. Memilih dan mengimplementasikan strategi belajar
5. Mengevaluasi hasil belajar
Sepertinya Andragogy merupakan pembelajaran yang dilakukan secara sadar dan cenderung sistematis.

Yang paling menarik, tentu saja Heutagogy ini. Berkenalan dengan istilah ini pun sungguh masih amat baru. Kalau bukan bergabung di grup ini, saya ndak kenalan dengan Heutagogy hehehhehe..
Dari referensi yang saya peroleh, Heutagogy merupakan pengembangan dari Andragogy. Sense yang saya dapat tentang Heutagogy ini adalah Heutagogy ini sifatnya sangat cair, fleksibel, humanis. Kebetulan referensi yang saya peroleh juga beranjak dari pendekatan yang diperkenalkan Carl Rogers yang memang adalah seorang tokoh yang berpendekatan humanis.
Heutagogy meletakkan titik berat pada pengembangan diri menjadi individu yang utuh dengan berbagai kekayaan potensinya.

Dalam Heutagogy, pengidentifikasian potensi belajar merupakan hal yang sangat dihargai, dan uniknya di dalam Heutagogy adalah proses belajar tidak bergantung pada pengidentifikasian learning needs. Salah satu hal yang diyakini dalam Heutagogy adalah “belajar bersifat alami, seperti hal nya bernafas”. Tidak mesti mematuhi prinsip linear, dan tidak mesti direncakan.

Dalam pandangan Heutagogy, belajar melibatkan kepekaan yang kadang dibahasakan sebagai intuisi. Kepekaan dalam belajar ini membimbing langkah dalam proses belajar sehingga setelah terlihat adanya hasil pembelajaran, individu tergerak untuk melakukan evaluasi.

Untitled

Prinsip “alami” ini juga mempengaruhi prinsip belajar dalam Heutagogy, yaitu
1. kita akan lebih mudah merasakan belajar ketika pengalaman tersebut dirasa selaras dengan keberadaan diri kita.
2. Pengalaman yang dirasa tidak selaras dengan derap diri kita akan mengalami penyaringan sehingga barangakali tidak sempat menyentuh diri kita, terlebih kita tangkap sebagai pembelajaran. Namun, bukan berarti kita tidak akan pernah dapat mempelajari hal baru, karena….
3. Hal-hal yang sebelumnya kita rasa tidak selaras dengan derap diri kita akan tetap dapat “menyentuh” kita jika kita dapat meminimalisir saringan atau filter diri kita.

Jika pemahaman saya tidak terlalu meleset jauh, dua hal utama yang menjadi tujuan Heutagogy adalah kapabilitas dan self-efficacy.

Dalam pemahaman Heutagogy, individu yang kapabel akan lebih mampu untuk secara efektif menghadapi lingkungan yang turbulen.
Untuk dapat mengembangkan diri menjadi individu yang kapabel, kita akan sangat terbantu jika mengusahakan beberapa hal berikut
1. membangun self-efficacy yang “all-round”
2. mengetahui bagaimana cara agar belajar
3. merengkuh kreativitas
4. mampu memanfaatkan kompetensi diri, baik di situasi yang dirasa istimewa ataupun situasi yang dirasa biasa-biasa saja
5. sanggup bekerja sama dengan orang lain

Saat mengetik ini saya sembari juga merenungkan pertanyaan umpan balik dari Pak Dodik dan Bu Septi tentang disiplin dan motivasi dalam pendekatan Heutagogy. Sepertinya, salah satu keindahan dari Heutagogy ini adalah ketika diri kita telah mengalami “dicolek” oleh pembelajaran akan sesuatu yang menggugah kognisi dan emosi kita, intuisi kita seolah “unjuk gigi” dan mengarahkan ke mana perlu melangkah selanjutnya.

Ketika pengalaman “a-ha!” ini terjadi, maka bisa jadi istilah “disiplin” yang biasanya terasosiasi dengan suatu keteraturan, ketaatan yang cenderung kaku dan saklek mengalami perubahan wujud menjadi lonjakan dan luapan semangat untuk lebih “ngeyel” menggali lebih jauh dari pembelajaran tersebut.

Sehingga dalam Heutagogy, disiplin menjadi suatu energi yang secara alami memberi motivasi dan menggerakkan roda pembelajaran.

Salam,

/Laura Siregar/

Tanggapan dan Tanya Jawab:

(Ferly)
Saya memahami bahwa pedogogy, andragogy dan heutagogy sebagai piramida tingkat belajar. Dan heutagogy lebih dekat dengan belajar sepanjang hayat. Seperti yang mb laura tuliskan, bahwa saat kita mendapatkan pengalaman “AHa” dalam proses belajar, maka disitulah letak ledakan energi motivasi untuk terus belajar.

(Chandra Firmantoko)
Awalnya sy pikir heutagogy ini yang paling canggih saat ini, MENGGANTIKAN peda & andra. Tapi setelah baca referensi lainnya, “menggantikan” bukanlah kata yang tepat, melainkan “melanjutkan”
peda & andra tetap valid diberlakukan, sesuai perkembangan kedewasaan peserta belajarnya.

(Iing, jogja) Bagaimana cara mengetahui kapan harus memakai pedagogi, andragogi, atau heutagogi?

Sejauh yg saya pahami, ketiga pendekatan ini mempunyai ciri yang bisa diaplikasikan sejak anak usia dini.

Apakah bisa disimpulkan heutagogi lebih baik daripada dua sebelumnya?

Sepertinya ketiganya saling melengkapi. Feedback untuk yang satu bisa menjadi kekuatan baru bagi yang lain.

Saat melibatkan Si Sulung (6,5 tahun) dalam proses belajar, tantangan kami adalah sangat tingginya minat dia terhadap hal-hal baru. Dan seringkali belum selesai dg 1 hal yg dia pilih sebelumnya, sudah tertarik lagi dg hal lain. Apa yg sebaiknya kami lakukan? Tetap menurutinya atau bagaimana?

Sejauh yg ayah-bunda pernah cobakan, tanggapan bagaimana yang lebih menstimuli si kakak untuk semakin ingin tau, kah? Menurut saya pribadi, akan seru dan menarik sekali jika dituruti, walau mungkin lumayan menguras energi. Let’s hang on.

Mbak laura mau tanya :
Dari sumber yg saya baca dalam heutagogy salah satu cirinya adalah guru menyediakan bbrp sumberdaya tapi pembelajar memutuskan arah dgn menegosiasikan pembelajaran. Sedikit byk ini sdh saya praktekkan pada anak saya. Tp, jdnya semua proses di nego sm anak. Apa ada batasan yg boleh di nego dan tidak?

Sejujurnya saya kurang paham hal ini, Bu / Pak.. Maklum baru belajar 😄
Tapi sepertinya ciri heutagogy ndak mesti ada pengajar/guru.. Sepaham saya, lho..

Berikut 2 pertanyaan saya:
1. Pada usia berapa teknik Andragogi bisa diterapkan pada anak ? anak sy saat ini usia 9thn dan 6 thn

Aduh… Maaf, kebetulan ini bukan bidang yang telah saya geluti. Kebetulan referensi yang saya peroleh tidak menyebutkan secara saklek tentang usia. Walaupun secara pribadi saya rasa ada bebepa pendekatan yang bisa dikenalkan. Seperti… Mencoba merumuskan “apa yg kita mau cari tau”. Sepertinya demikian.. Mungkin ada yg bisa bantu untuk pertanyaan ini?

Mhn contoh iklim yg kondusif utk belajar mengajar, dan bagaimana cara mengcreate nya.

Berhubung tiap anak / tiap individu adalah unik, sepertinya ini cukup atau sangat bergantung pada tiap individu juga, Bu / Pak..

Bagaimanakah aplikasi heutagogi pada pendidikan usia dini?rasa penasaran yang sama juga mengusik saya

Dalam pemahaman saya, yang bisa kita kenalkan pada anak adalah membangun self-efficacy nya, yaitu bahwa anak mampu melakukan task-task yang sesuai usianya. Biarkan anak mencoba lagi dan lagi.
Mohon koreksi Pak Dodik dan Bu Septi… Mohon koreksi teman-teman juga.

Mungkinkah aplikasi heutagogi secara penuh untuk pendidikan rumah?

gawat.. Ini pertanyaan tingkat tinggi. Saya belum level ini kayanya 😁 Namun, sepertinya sifat cair dan sifat eklektik dari heutagogy memungkinkan hal ini dilakukan. Tapi mungkin perlu realistis juga, misalnya barangkali perlu refreshing? Sepertinya… Sisi lain dari heutagogy yang indah ini, heutagogy juga membutuhkan stok energi yg banyak.

Bagaimana meramu ketiga metode ini untuk pendidikan rumah?

mohon ampun… Yang ini saya ndak sanggup jawab 🙏🏼 mohon pencerahan Mbak Septi dan Bapak..

(Septi Peni)
wow…lancaaar jaya tanya jawabnya….terima kasih mbak laura….ini baru namanya “learning by teaching”

(Dodik Mariyanto)
Terima kasih Mbak Laura dan kawan2 Tanya dulu dong, Mbak Laura baca berapa artikel/buku untuk nulis pengantar itu?
Di bagian mana ayah bunda ingin klarifikasi?

Amin, Mbak Septi.. Syukur pada Tuhan diberi semangat dan konsentrasi ketak ketik itu .Pada dasarnya membaca referensi yang kita sharing di grup, Mbak septi.. Dan juga teringat sharing teman-teman sesama ortu HS.. Yang di share di Facebook

(Iing)
Membangun self efficacy pada anak usia dini, sesuai tahapan perkembangannya–> superrr… Sampai disini saya semakin punya gambaran apa yg bisa dilakukan. Juga memperjelas jawaban atas pertanyaan saya sebelumnya. Terima kasih mbak Laura

Amin, Bu Iing.. Sayang yang bersyukur. Artinya pemahaman yang saya baru mulai bangun ini terkonfirmasi sedikit demi sedikit juga lewat sharing Mbak Iing

(Dodik Mariyanto)
Ini serunya Learning by Teaching, Ada yang pernah menerapkan ke anak2?

Sedikit sedikit di-“eksperimen”kan ke anak, Pak Dodik.. Misal, saat anak meminta agar dibacakan ulang cerita Alkitab yang sudah pernah kami bacakan, kami minta anak untuk gantian bercerita kepada kami

(Dodik Mariyanto ) Mbak Laura, keren, Ada yang punya pengalaman lagi?

(Nila)
Anak saya kebetulan suka sekali sains, ketika dia membaca hal baru, maka sy terkadang bertanya “pura2 tidak tahu” ttg hal tsb sehingga anak sy dengan semangat menjelaskannya..

(Dodik Mariyanto) Wuis ini ketrampilan penting: pura2 tak tahu

(Yanti) Saya masih berusaha mencerna krn ketiga istilah ini baru saya kenal minggu kemarin

(Dodik Mariyanto ) Mbak Damayanti, cuma terpaut seminggu dengan saya hahaaa
Jangan kuatir

(Ibu Azmi) Sama bu yanti saya juga masih menjadi penyimak sejati ini…😊

(Dodik Mariyanto) menyimak itu ketrampilan yang tidak mudah lo

(Ninik)
Kalau sy baru mengenal ke 3 istilah ini..tentang seni mendidik anak, anak sy masuk hs ketika sdh kelas 2 sma, banyak luka dan kesalahan yg kami lakukan…dan butuh waktu utk mengobatinya, ketika mulai memperlakukan sesuai fitrahnya.. baru dia mulai nyaman…

(Dodik Mariyanto) Bunda Ninik, dan ternyata tidak terlambat kan. Semua ada waktunya (kata orang jawa, kabeh ana sangate)

(Yanti)
Kalau anak pertama saya sukanya science, arsitektur dan games. Anak kedua sukanya art dan gardening. Kemampuan matematika mrk berbanding terbalik. Saya suka membebaskan mrk melakukan eksplorasi minat mrk, apakah sudah benar ya? Tapi saya belum pernah memberikan mrk project2 sehubungan dgn minat mrk, krn saya tidak tau caranya. Ada masukan? Maaf malah minta saran ..

(Dodik Mariyanto)
Mbak Damayanti, bawa dokumentasi yang sudah ada. Nanti kita obrolkan disana

(Eko)
Sy masih kesulitan identifikasi ( terutama yg heutagogy) pada proses belajar anak saya. SelamA ini mengalir saja. Ini seperti peta yg akan mempermudah proses mengalirnya

(Dodik Mariyanto)
Mas Eko, sudah ada peta yang jadi? Boleh dishare di SfHF nanti ya

(Ai)
Hanya ingin berbagi cerita saja. Anak sy 3th (mei nanti) kami biasa bercerita dari buku kumpulan Fabel yg bergambar, cerita kami hanya fokus pd gambar bukan cerita yg tertulis, seringkali dlm kesempatan lain, melalui gambar yg sama tp ceritanya lain. Dilain waktu anak saya yg cerita tg gambar tsb dg versinya dia.

(Dodik Mariyanto)
Bu Ai, ada yang menarik dari proses itu?

(Ai)
Tentu pak, sy terkagum melihat anak kecil sdh bisa menceritakan kembali gambar2 dg versinya dia. Melihat seorang anak yg sdh punya ide kreatif 😄
Selain bisa menceritakan kembali, anak sy suka menjadi director dg menunjuk, ayah jd sikancil, bunda jd monyet, misalnya, lalu kami berperan sesuai cerita tsb.

(Dodik Mariyanto IIP)
Waduh monyet…hahaaa. Boleh nanti diperagakan ya Bund….hahaaa

(Ai)
Mmm pak Dodik

(Ian)Secara teori sepertinya mudah dipahami tetapi saya masih kesulitan mencitrakan aplikasinya di kehidupan nyata. Apakah ada yang mau berbagi pengalaman teman-teman? (Masih berusaha mencerna)

(Dodik Mariyanto)
Mas Ian, sabar sebentar ya

(Ian)
pengalaman keluarga kami masih sama seperti Pak Eko, mengalir .

(Dodik Mariyanto)
Mas Ian, mengalir. Saya catat

(Rosyidah)
Anak saya usia 3th, kebetulan senang sekali dg buku, saat dia ingin dibacakan buku tentang “aku bisa merapikan mainan sendiri” dia senang sekali, dan dia dpt menceritakan kembali dg melihat gambar serta bercerita ala dia sendiri…lucu sih dengernya, dan cerita itu dia tetapkan dlm permainannya, setiap bermain, dia selalu bilang, mik nanti adik yg beresin ya…adik bisa merapikan mainannya

(Dodik Mariyanto) Bunda Rosyidah hebat

(Dodik Mariyanto )
Coba kita list bersama, apa keunggulan dari learning by teaching (LbT, without G ya heheee) ini?

(Nila)
Suami saya meyakini bhwa jika seorang dewasa atau anak sekalipun diberi kesempatan/tanggung jawab atas pembelajaran orang lain/ anak lain maka dia akan secara alami berusaha utk lebih..

(Yanti)
Jadi makin pinter 🙂 pesertanya pinter, gurunya lebih pinter 👍🏻

(Yuli)
Bs menambah rasa percaya diri

(Abdan)
belajar yang efektif dengan mengajar…(soalnya malu kalo gak bisa

(Iing)
bikin tertantang, melatih percaya diri dan tanggung jawab, jadi bisa elaborasi dari berbagai resource

(Ninik)
Dan ketika menyimak diskusi ini,hanya bisa mengoreksi diri,ketika aku berharap anakku, harusnya aku memantapkan diriku untuk mereka

(Ian)
keunggulan learning by teaching: mencoba mempelajari sesuatu dengan mengajarkannya kepada orang lain dan mencoba memahami hal tersebut dengan cara mengujicobakan penalaran kita terhadap sesuatu yang sedang kita pelajari.

(Rosyidah)
Proses pembelajaran lebih bermakna dan dpt memancing rasa ingin tahu yg lebih tinggi

(Eka)
Keunggulan dr learning by teaching bisa sampai 90% krn ada proses melakukan langsung atau mengalami sendiri

(Laura)
LbT : jadi “dipaksa” untuk menata ulang pemahaman. Jadi lebih rapih, lebih jelas.

(Dodik Mariyanto)
Mas Abdan, Mbak IIng, Mbak Eka, Mbak Ai,
Mbak Laura, nah ini yang baru ngalami

(Abdan)
belajar dengan mengajar melatih kita untuk open minded, rendah hati.

(Eko)
Tell me and I will forget, teach me and I may remember, involve me and I learn (Ben Franklin)

(Dodik Mariyanto)
Mas Eko mulai melempar quote heheee

(Dodik Mariyanto )
Mbak Laura, saat mendapat pertanyaan tentu ada rasa deg2an
Pertanyaan membuat kita lebih berpikir.
Berpikir membuat kita kian paham dan pintar

(Dodik Mariyanto)
Ketika mempresentasikan informasi dikocok lagi, makin jelas, dan sistematis. Dan tidak jarang muncul pemahaman baru dan lebih mendalam

(Ai)
Iya, dg LbT otak kita dituntut utk bekerja lbh keras lg.
Berpikir, mencerna pertanyaan memahami lebih dalam bagaimana menjawab pertanyaan.

(Chandra)
Peserta didik : Petra, laki-laki, 9th
1) membuatkan materi pelajaran dan mengajarkannya secara kaku, pernah, dan masih dilakukan.
2) mengarahkan anak untuk menemukan solusi atas permasalahannya, pernah, dan masih dilakukan.

(Dodik Mariyanto)
Mas Chandra, sabar. Tomat hitam bisa membuat otak cemerlang kok heheee

(Dodik Mariyanto)
Kembali ke Mas Ian: “Secara teori sepertinya mudah dipahami tetapi saya masih kesulitan mencitrakan aplikasinya di kehidupan nyata. Apakah ada yang mau berbagi pengalaman teman-teman? (Masih berusaha mencerna)
Bagaimana menurut teman2?
Apakah memang demikian?

(Yanti)
Sepertinya kita memang tidak bisa memisahkan ketiga proses belajar ini ya. Semua harus dilalui sampai nanti anak menemukan AHA momentnya. Begitukah?

(Dodik Mariyanto IIP)
Mbak Yanti yakin?

(Yanti)
Kurang yakin pak dodik, makanya nanya balik hehee

(Yanti) Soalnya saya perhatikan anak tertua saya, 9 th, dia suka banget science dan physics, dia suka cari2 sendiri di laptopnya sampai kadang dia tidur sampe jam 11 malem cuma buat bikin2 sesuatu di algodoo (website kesukaannya)

(Dodik Mariyanto IIP)
Mbak Yanti, asyik itu
Bukankah banyak ortu bingung nyuruh anak belajar?

(Laura)
Wah.. Keren banget, Bu Yantie 👍🏽 si kakak udah mulai nemu passion nya ya?

(Laura)
@bu Yantie : punten.. Sepaham saya, ketiga hal tersebut justru bukan proses. Tetapi ketiga hal tersebut lebih seperti kerangka atau kacamata dalam memahami proses belajar

(Yanti)
Ooo I see mba Laura 🙂 pemahaman baru buat saya

(Dodik Mariyanto )
Nah, Mbak Laura membuka kotak pandora berikutnya hahaaa
“kerangka memahami proses belajar

(Ian)
how do we lead ourselves to achieve the “Aha” moment?
ada yang sudah pernah mengalami “aha” momen temab2?

(Dodik Mariyanto)
Nah, Mbak Yanti leads ke pertanyaan Mas Ian berikutnya nih hehhe

(Ratri)
Keunggulan LBT : segera tahu kekurangan ttg materi yg diajarkan shg secara alami ia akan mempelajarinya lbh mendalam akan kekurangannya.maaf barusan hadir.salam kenal.saya suami bunda yuli

(Nurhadi)
HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN,BERTAQWALAH KAMU KEPADA ALLAH DAN KATAKANLAH PERKATAAN YANG BENAR,
NISCAYA ALLAH MEMPERBAIKI BAGIMU AMALAN-AMALANMU DAN MENGAPUNI BAGIMU DOSA-DOSAMU.DAN BARANG SIAPA MENTA’ATI ALLAH DAN RASUL-Nya,MAKA SESUNGGUHNYA IA TELAH MENDAPAT KEMENANGAN YANG BESAR. (QS.AL AHZAB (33)70-71).

Dalam Quran, learning by teaching sangat dianjurkan yaitu dgn menyampaikan scr aktif perkataan yg baik/benar, maka ALLAH akan memperbaiki apa yg kita kerjakan

(Dodik Mariyanto)
Pak Nurhadi 👍🏻
Ada pengalaman pribadi di seputar itu?
Bagaimana hal itu bekerja?

(Nurhadi)
Banyak pak Dodik…
Hehehe…

(Dodik Mariyanto IIP)
satu saja

(Nurhadi)
Pengalaman saya atau anak3 neh Bu…hehee..

(Dodik Mariyanto IIP)
Mangga Pak Nur, yang mana yang paling joss untuk disampaikan

(Nurhadi)
Sya adlh geodetic engineer dan banyak berkecimpung di dunia pertambangan, di sisi lain saya aktif juga membangun pusat karir di UGM, dan ternyata saya menemukan passion saya di dunia SDM & Organisasj, banyak short course yg saya ambil, bersamaan dgn itu saya sampaikan dan praktekan untuk organisaso dan perusahaan yg saya jalankan bgmn menyusun BSC, menyusun KPI & PA yg scr otomatis harus menyampaikan ke semua team, dan ternyata luar biasa materi short course yg saya dapatkan dgn realitanya jauh lebih komplit dan khas…

(Ai)
Apakah LbT tidak bertentangan dg pernyataan bahwa kita harus menyampaikan ilmu setelah kita mengamalkannya/mengalaminya?

(Dodik Mariyanto)
Menurut Mbak Ai bagaimana?

(Ai)
Mungkin 2 hal yg berbeda ya? Yg 1. LbT yang 2.learning by doing tea.. He..

(Dodik Mariyanto )
Nah Mbak Ai punya kosa kata lain lagi LbD

(Eko)
Sulung saya (bara, 7 taun). Karena kami lihat auditory nya bagus Dan suka bersenandung. Kami coba tawarkan untuk belajar piano ( yg melodius) tapi dia malah mau belajar drum. Jadilah dia belajar drum Dan menikmati proses belajar nya.

(Eka)
Anak sy Shayna 4th kesengsem dg ‘irama’ asmaul khusna yg ia dengar saat mengikuti pengajian bersama eyangnya. Ia inisiatif dan antusias ingin bisa hafal. Lalu sy dan shayna menghafal bersama (krn ibunya sdh lupa hafalan). Sy mulai menghafal dulu, lalu sy ulang2 di depan shayna. Sy menemukan bahwa ingatan shayna lebih tajam dan sring membetulkan hafalan sy yg terlewat.

(Ratri)
Ilmu klo kita menyampaikan atau mengajarkan bukankah sdh termasuk mengamalkan?

(Dodik Mariyanto)
Izinkan saya cerita pengalaman masa lalu
Doeloe pak guru menjelaskan andragogy juga dengan cara pedagogy
Ngerti arti istilahnya dapet, bagaimana menjalankannya ngga bisa
Targetnya memang saat tes bisa jawab
Perjalanan saya mengantarkan bahwa kita perlu menyusun definisi yang berisi action, langkah2 untuk menjalankan hal itu
Saya mendapatkan hal menarik dengan mengupayakan action dari ketiga hal itu. Bagaimana membedakannya? Bagaimana menjalankannya?
Dan ini yang saya dapatkan belum lama berselang dengan anak2 saat ngobrol di warung kopi

Pedagogy = I know, you don’t know ==> I teach you (saya mesti banyak baca, banyak tahu buat bisa ngajar dengan baik)
Andragogy = I know, you know ==> let’s discuss (saya mesti terampil bertanya, tik-tok kiri-kanan, mengajukan tawaran, dll)
Heutagogy = you know better, let me hear (nah, saya mesti apa kira2 ?)

Terima kasih teman2
Saya undur diri malam ini

Catatan :
Link-link yang sudah ditemukan teman-teman berkaitan dengan Pedagogy,Andragogy dan Heutagogy, silakan dicermati

The Adult Learning Theory – Andragogy – of Malcolm Knowles

http://infed.org/mobi/what-is-pedagogy/http://www.psy.gla.ac.uk/~steve/pr/Heutagogy.htmlhttp://www.irrodl.org/index.php/irrodl/article/view/1076/2087

Tantangan Pekan Depan :

APA ITU EDUCATION 3.0?

Tantangan menarik ini, bagi yang sudah mendapatkan link menarik langsung posting di grup ya, yang sanggup menerima tantangan untuk menyampaikan hasil belajarnya segera ngacung di grup ya, seminggu ini akan menjadi pengalaman belajar yang sangat indah bagi anda.

Sampai Jumpa hari Selasa, 22 Maret 2016, jam 20.00-21.00 wib

Resume Diskusi ke 2
Pra-Event School for Homeschool Facilitators
15 Maret 2016, pukul 20.00 – 21.00 wib
Pemateri : Laura Siregar (Jakarta)
Penulis Resume : Dinari (Kalimantan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s