EDUCATION 3.0

 

Pendidikan 3.0 adalah sebuah kiasan dari evolusi web, mulai dari Web 1.0, Web 2.0, Web 3.0. Sejalan dengan perkembangan varian web tersebut, kita juga dapat membandingkan perkembangan pendidikan kita menggunakan Pendidikan 1.0, Pendidikan 2.0 dan Pendidikan 3.0.

Untuk memahami versi masing-masing, mari kita lihat perkembangan web yang dapat memberikan gambaran terhadap perkembangan pendidikan kita.

Web 1.0 adalah web statis di mana pengguna internet hanya bisa “membaca” informasi saja.

Web 2.0 adalah versi “read-write” di mana sesama pengguna internet dapat berinteraksi satu sama lain.
Web 3.0 adalah versi “read-write-execute” di mana web versi ini dapat membantu kita mengolah data lebih baik lagi sehingga kita tidak hanya menjadi seorang konsumen informasi tetapi juga produsen.

Berikut ini pemahaman saya tentang karakteristik Pendidikan 1.0 – 3.0:

🍀KARAKTERISTIK PENDIDIKAN 1.0 (Pedagogi)

Komunikasi dilakukan satu arah dari Guru ke Murid. Pengajaran dilakukan secara pasif di mana murid hanya menerima informasi yang diberikan oleh Guru. Guru yang memiliki keputusan apa yang penting bagi muridnya tanpa memerhatikan ketertarikan atau kebutuhan murid. Pencapaian Murid diukur melalui nilai. Metode pendidikan dilakukan dengan pendekatan pedagogi (teacher-directed instruction) di mana guru memiliki tanggung jawab penuh untuk membuat keputusan tentang apa, bagaimana, dan kapan untuk mempelajari sesuatu. Murid diasumsikan hanya perlu mengetahui apa yang diajarkan oleh guru.

Kegiatan belajar dilakukan di dalam ruangan. Status pendidik haruslah seorang professional berlisensi untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

🍀KARAKTERISTIK PENDIDIKAN 2.0 (Andragogi)

Sama halnya dengan Web 2.0, Pendidikan 2.0 berfokus kegiatan “read-write” dengan konsep 3C; Communication, Contribution and Collaboration. Pendidikan 2.0 mulai memerhatikan kebutuhan murid. Hubungan antara Guru ke Murid dan Murid ke Murid dianggap sebagai bagian dari proses belajar. Tetapi Guru masih berperan sebagai pemegang kendali di dalam kegiatan belajar. Metode Pendidikan 2.0 menggunakan pendekatan Adragogi yang berfokus pada pendekatan Konstruktivisme di dalam kegiatan belajar dan mengajar. Konstruktivisme adalah teori pengetahuan yang berpendapat bahwa manusia menghasilkan pengetahuan dan makna dari interaksi antara pengalaman dan ide-ide mereka.

Andragogi dipahami sebagai pendekatan untuk pengajaran orang dewasa, meskipun sebenarnya prinsip dasar dari Andragogi dapat diambil dan diaplikasikan untuk pengajaran pada usia berapa pun.
Sumber daya internet telah menjadi bagian dari kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan di dalam ruangan atau secara virtual. Status pendidik haruslah seorang professional berlisensi untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

🍀KARAKTERISTIK PENDIDIKAN 3.0 (Heutagogi)

( Pembelajaran (teaching) —> Pemelajaran (learning) )
Terdapat perubahan di dalam proses belajar, yang tadinya “perbuatan menjadikan orang belajar (pembelajaran)” menjadi “perbuatan mempelajari (pemelajaran)”. Di sini fokus terletak pada kata pembelajar bukan pengajar. Pembelajar adalah “digital native” (seseorang yang lahir di era teknologi digital sehingga terbiasa dengan penggunaan komputer atau internet mulai dari usia dini). Kegiatan belajar dapat dilakukan di mana saja termasuk di tempat umum. Status pendidik tidak harus seseorang yang memiliki lisensi tetapi seseorang yang ahli di bidangnya.

Pendidikan 3.0 didasari oleh pandangan bahwa pendidikan dapat disesuaikan dan bebas dipilih sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Terdapat perubahan yang sangat signifikan dari transisi Pendidikan 2.0 yang masih berupa “melakukan pemelajaran yang difasilitasi oleh Guru”(Communication, Contribution and Collaboration).

Pada versi Pendidikan 3.0 telah berubah “menjadi pembelajar yang bebas” dengan konsep 3C pula (Connectors, Creators, Constructivists).

Kondisi ini secara otomatis mengubah peran pendidik menjadi seorang pendamping atau pelatih dan tidak menggurui lagi. Pendidik memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak, mengetahui tentang process belajar, dan memiliki pengetahuan prosedural tentang bagaimana mencari informasi, mengidentifikasi dan menggunakan sumber daya informasi dan jejaring sosial untuk tujuan pemelajaran (bukan pembelajaran).

Bagaimana strategi kita mengubah model pendidikan untuk anak-anak kita?

Mengubah Pola Pikir
Dengan mengganti fokus kita pada apa yang “bekerja” daripada apa yang “tidak bekerja”, pada apa yang mungkin dilakukan dan bukan pada apa yang tidak mungkin untuk dilakukan merupakan perubahan kecil yang dapat berefek besar. Keberadaan murid (pembelajar) harus menjadi fokus utama pendidikan, bukan standar pendidikan, bukan ujian, dan bukan guru.

Education 3.0: Getting to Know the Brain I’m not a neuroscientist, but I do play one on TV. Well, maybe not on traditional TV

Salam,

/Rahdian Saepuloh/

Sumber belajar yang berkaitan dengan hal tersebut di atas:

Education 3.0: Getting to Know the Brain

Education 3.0: ‘Learning Psychology’ — Embracing Better Ways to Teach


http://usergeneratededucation.wordpress.com/tag/education-3-0/

Tanya Jawab :
1⃣Mas Ian, terima kasih sharingnya, semakin membuka wawasan saya tentang berbagai istilah baru. Nah sekarang bagaimana kira-kira implementasi education 3.0 ini dalam menghadapi anak-anak yg belum tersentuh gadget?

Terima kasih Ibu Septi. Saya coba jawab  ya. Pendidikan 3.0 bukan membuat anak-anak “harus bersentuhan” dengan gadget. Di era modern ini secara alamiah anak-anak akan terekspos dengan gadget dan sumber informasi dibandingkan orangtuanya. Untuk anak usia dini ada baiknya tidak berkenalan dahulu dengan gadget karena beraktifitas fisik lebih baik daripada duduk berjam-jam bermain gadget. Implementasikan yang bisa bayangkan saat ini (untuk anak usia dini) adalah pengambilan keputusan. misalnya, kita bertanya kepada anak kita mau bermain apa, (bahan/peralatan) apa yang diperlukan untuk memainkannya, Mengapa ingin memainkan permainan itu sehingga sedikit demi sedikit membiasakan anak untuk mengambil keputusan yang didasari oleh keinginannya yang beralasan. Tentunya alasan tersebut tidak harus kompleks kalau dilihat dari sudut pandang anak usia dini. “Karena aku suka aja” bisa menjadi solid foundation.

2⃣ Bgmn contoh praktek pendidikan 1.0, 2.0 dan 3.0 untuk satu kasus saja

Saya coba buatkan contoh dalam pemerolehan informasi tentang siklus air:
Pendidikan 1.0 : Guru mengajarkan siklus air karena termasuk di dalam silabus dan murid harus belajar dan “menghafal” proses terjadinya hujan berdasarkan ajaran guru tanpa ada observasi.

Pendidikan 2.0 : Guru mengajarkan siklus air dengan mengadakan pembuka di kelas atau diskusi bersama murid tentang siklus air sehingga murid paham tentang konsep siklus air dan bahkan dapat membuat prakarya yang menunjukkan pemahamannya. Misalnya membuat diorama tentang siklus air.

Pendidikan 3.0 : Anak mulai mempertanyakan dari mana asal muasal air dan mulai bertanya kepada orang-orang di sekitarnya dan untuk yang sudah berkenalan dengan gadget dan internet mulai berselancar mencari jawabannya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Di masa yang akan datang informasi ini akan membantu anak untuk memecahkan suatu masalah atau memahami suatu hal dan dapat merembet dengan mempertanyakan hal lainnya yang terkait dengan isu lingkungan. Misalnya mengapa pohon-pohon tidak boleh ditebang seenaknya, dsb.✅

3⃣a) Mohon penjelasan dan praktek real, bgm praktek penerapan pendidikan 3.0 jika anak sudah mempunyai ketertarikan tapi susah mencari komunitas.
misal anak saya senang dgn IT tapi komunitas IT untuk anak2 adanya di jakarta, kemudian anak yg lain suka memasak tp komunitas memasak (koki/chef) utk anak2 blm ada, dan yg terakhir baru 5th suka sepak bola tp blm komunitas sepak bola utk seusianya.

Asumsinya anak tersebut sudah dewasa ya (bisa baca tulis). Inilah yang dimaksud dengan digital native. Anak tersebut seharusnya tidak mengalami kesulitan dalam mencari informasi atau komunitas di internet. Tugas kita sebagai fasilitator adalah membantu mengarahkan anak untuk dapat mendayagunakan sumber informasi tersebut untuk membantu hal-hal yang anaknya perlukan. Inilah menariknya Pendidikan 3.0, jika dirasa belum ada komunitasnya, anaknya dapat menginisiasi komunitas yang diinginkannya.✅

b) Kemudian bgmn memfungsikan diri (org tua) sebagai pendamping/pelatih spy anak bisa tetap dalam 3C (connectors, creators, constructivist)

Orangtua dapat membantu anak dalam proses pencariannya. Menjadi teman berdiskusi terlebih dahulu supaya orangtua dapat memosisikan diri peran apa yang harus orangtuanya lakukan untuk membantu pemelajaran anaknya.

4⃣Berkaitan dg konsep pendidikan 3.0, bagaimana kalau tidak menemukan pendidik yg ahli, dan ortu kalau mau belajar akan semua ketertarikan anak tdk cukup waktu untuk belajar cepat dan memori otaknya tidak mencukupi hehe

Berarti belum siap untuk menjalankan pendidikan 3.0 bu, Karena dalam Pendidikan 3.0, anak dapat belajar dari siapa saja. Mencari jawaban dari keingintahuannya lebih penting daripada berapa banyak informasi yang dimiliki dalam waktu 1 bulan.

5⃣Apakah pendidikan 3.0 semuanya harus berbasis internet? Bagaimana kita sbg ortu bisa memfilter apa2 saja yg sebaiknya anak explore di internet? Di kasus saya, anak pertama saya sgt high tech,  sangat mandiri belajar mencari source di internet, tp saya yg justru khawatir dia akan kebablasan 😦

Pendidikan 3.0 sekali lagi “tidak harus” berbasis internet. Hanya saja keberadaan internet menghilangkan masalah ruang dan waktu. Tidak ada filter yang lebih baik selain kontrol diri. Di sinilah peran kita sebagai orangtua diperlukan. Bagaimana caranya kita melatih kontrol diri anak kita. Apalagi di internet banyak sekali dstraction yang akan ditemui, niatnya mencari informasi, bisa berujung keasyikan bermain game atau bercengkrama dengan kawannya di media sosial, dsb.

6.Anak saya belajar google scetch up sendiri autodidak, krn saya gak high tech 😦 saya tinggal di pelosok, mencari komunitas arsitektur agak susah, saya juga belum ketemu orng yg tepat yg bisa mengajarkan dia sesuai passionnua saat ini. Bagaimana saya bisa memfasilitasinya?

Tutorial Google Sketch Up sudah banyak di Toko Buku. Tutorial di Youtube pun banyak . Mau nambahin buat mbak yanti. Mungkin bisa memanfaatkan medsos untuk mencari komunitas belajar arsitektur untuk anaknya…juga bisa digunakan untuk mencari maestro untuk jadi mentor🙏🏻

7. Langkah2 apa yg mesti dilalukan utk mempersiapkan diri mjd pendamping anak2 dgn pendidikan 3.0?

Bu Nila, mengenai langkah-langkahnya saya juga masih berproses menuju ke sana. Tapi yang dapat saya bayangkan sepertinya sebaggai orangtua harus berpikiran terbuka terhadap perubahan dan selalu memotivasi anak kita dan mengapresiasi segala usaha yang dilakukannya sehingga anak tahu bahwa yang dilakukannya itu memiliki arti. Silakan jika ada yang ingin menambahkan

Mas Ian nambahin ya, Menarik dengan pertanyaan “bagaimana ortu harus menyiapkan diri dalam menghadirkan 3.0?”
Idealnya sih ortu harus belajar supaya lebih pinter (more inteligent) duluan daripada anak.
Tapi menurut sy kok itu bakalan menghabiskan energi banyak, tanpa jaminan bahwa ortu akan pasti lebih pinter, soalnya seringkali anak yang duluan cepet pinter, terutama jika bidang yang diminati anak adalah hal yang bukan expertise ortu.

Ada 2 hal yang mestinya ortu lebih advance dibandingkan anaknya, yaitu pengalaman (experience) & kebijaksanaan (wisdom). 2 hal ini menurut sy cukup sebagai bekal untuk mendampingi anak memasuki edu 3.0. Minimal, digunakan untuk mencari & menyaring sumber informasi yang dibutuhkan anak.- Chandra Firmantoko
8.Di salah satu sumber yang saya peroleh, mengaitkan Education 3.0 dengan Neuroscience. Bagaimana temuan Pak Ian tentang hal ini, mohon di-share, Pak. Tks

Mohon maaf bu Laura sepertinya baru memahami karakteristiknya saja secara umum tentang Pendidikan 3.0 dan belum sampai ke sana pemelajaran saya. Mungkin ada teman-teman yang sudah sampai sana proses belajarnya?

9. Apakah pendidikan 3.0 jadinya tidak bergantung pada gadget/internet?

Terima kasih Elan,Pendidikan 3.0 sepertinya akan bergantung pada koneksi internet tetapi belum tentu pada gadget. Pemanfaatan teknologi dan akses informasi melalui internet menjadi bahan utama dalam Pendidikan 3.0 karena menghilangkan masalah ruang dan waktu.

10. Mas Ian… Apakah Education 3.0 adalah sebuah istilah lain dari heutagogy?
Jika tidak mesti melibatkan gadget, lalu kenapa gadget seperti menjadi “ciri”?
Maaf kalau sudah ada pertanyaan serupa

Pendidikan 3.0 bukan istilah lain dari Heutagogy. Gadget  bukan menjadi sebuah ciri tetapi gaya hidup. Mengingat semua orang memiliki gadget  dan secara otomotis gadget tersebut dapat mengakses informasi ketika terkoneksi internet sehingga mudah bagi pemelajar untuk mencari informasi kapan pun dibutuhkan.

Saya agak meraba.. Bahwa gadget ini digunakan sebagai “sarana” untuk lebih memahami proses berpikir kita. Kerja otak kita. Barangkali karena itu agak dipadankan, kah?
2 hal yang cara bekerjanya rada mirip, jadi bisa diberdayakan. Mudah disinkronkan.
Apakah begitu ya? – Laura Siregar.

Kenapa gadget menjadi ciri 3.0? Karena kita membahas 3.0 di era gadget, dan gadget (internet lebih tepatnya) sangat sangat mendukung terlaksananya edu 3.0 ini.- Chandra Firmantoko

Kalo dari link yg di atas, yang saya pahami, pengetahuan tentang cara kerja otak membantu kita untuk belajar lebih mudah. Jadi dalam education 3.0, proses belajar harusnya juga memperhatikan cara kerja otak. Gadget menjadi ciri menurut saya adalah karena fleksibilitasnya. Gadget dapat diakses dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja, selama sinyal dari provider tersedia😁- Nesri Baidani

Penutup:

 Ini proses yang sangat seru dan mencerahkan. Terima kasih untuk Mas Ian dan partisipasi Bunda Ayahanda sekalian, juga Elan. Link2 yang dibagikan sangat memperkaya wawasan. Sejauh ini kita sudah menambah kosa kata dan pemahaman kita untuk beberapa istilah, yang mungkin sebagian baru untuk kita. Yang sudah fasih dengan materi tersebut insyaAllah akan bisa banyak berbagi nantinya. 

Yang perlu saya sampaikan, di forum SfHF (School for Homeschool Facilitators) nanti kita tidak akan memperdebatkan pemahaman mana yang benar mana yang salah. Kita juga tidak dalam kapasitas memberikan judgment atas aneka praktek yang berjalan. Fokus kita adalah pada apa yang sudah kita kerjakan dan apa yang akan kita kerjakan dalam upaya mengoptimumkan proses pengembangan ananda di rumah. Tidak perlu merepotkan diri dengan apa yang orang lain dan luaran sana melakukannya.Konsep2 yang Ayah Bunda dapatkan sampai saat ini dapat digunakan untuk membangun peta perjalanan proses di rumah dan komunitas.

Sudah sampai di posisi mana? Seberapa konsisten?Dan seberapa sudah mengoptimumkannya?

Hal2 itu yang nanti akan kita obrolkan di forum SfHF di Kaki Merbabu
Sampai jumpa dan selamat beraktivitas (malam)

  • Dodik Mariyanto

Notes:
Dari tiga kali perbincangan kita ini silakan mencermati perjalanan pendidikan rumah masing-masing. Tulis dalam catatan pribadi ayah bunda. Apa yang sudah baik dan apa yang ingin anda lakukan untuk menjadikannya lebih baik.

Selanjutnya kita lihat kembali menu workshop yang sudah kita sepakati di awal :
Asm_IHXBnFmzUoyzqeA3OUGa_wOkeL_w_l_NiNvzaciY
Apakah ingin revisi? ada materi yang ingin Ayah Bunda tambahkan atau kurangi? Silakan ditulis di komen di bawah ini atau di WA grup kita.

Sampai jumpa di Kulwapp ke 4 pada tanggal 29 Maret 2016, jam 20.00-21.00 wib, dan dipandu langsung oleh Bapak Dodik mariyanto.


Resume Diskusi Ke 3

22 Maret 2016 jam 20.00-21.00 wib
Pemateri : Rahdian Saepuloh – Jakarta
Pembuat Resume : Septi Peni – Salatiga

Advertisements

2 thoughts on “EDUCATION 3.0

  1. says:

    Alhamdulillah, paparan tentang Education 3.0 membuka wawasan, era digital begitu banyak membawa perubahan

    Terimakasih atas kesungguhanya membuat resume, terasa manfaatnya

    Salam Tekun
    Adems Machnun

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s