IVORY TOWER

Judul film ini muncul dari message pak Nurhadi, direktur ECC (Engineering Career Center) UGM,  yang menjadi salah satu peserta School for Homeschool Facilitators. Di tengah-tengah kami mendiskusikan tentang education 3.0 maka disitulah muncul berbagai media belajar yang bisa kami akses salah satunya “belajar dari film”mulai dari Ivory Tower, Kungfu Panda 3 sampai dengan matrix. Penasaran dengan judul-judul tersebut, maka mulailah kami sekeluarga menonton satu persatu. Kita awali dengan Ivory Tower ya.

Film Ivory Tower (Menara Gading) ini adalah film dokumenter yang sempat membuat kami tercengang, keren banget. Karena biasanya yang namanya film dokumenter itu membosankan. Film ini disutradarai oleh Andrew Rossi pada  tahun 2014 yang mengambil contoh kehidupan para mahasiswa yang sedang kuliah di Harvard, Deep Springs College di daerah Death Valley, Spelman College dan Manhattan Cooper Union.

Film ini bercerita mengenai bagaimana biaya kuliah di Amerika serikat yang naik berkali lipat hingga 1000 persen sejak tahun 1978. Dan hal yang lebih mencengangkan lagi adalah kenaikan dari  hutang pinjaman mahasiswa (student loan debt) melampaui USD 1 Triliun, lebih besar dari semua hutang kartu kredit di Amerika Serikat.

Hal ini awalnya didorong oleh kondisi subsidi dari pemerintah yang semakin berkurang bagi dunia pendidikan, dan kemudian bagaimana universitas-universitas di Amerika serikat berlomba-lomba untuk menjadi perguruan tinggi nomor 1 di negara tersebut. Hal itu dilakukan demi mengejar keuntungan, prestise dan gengsi semata. Mereka sudah mulai melupakan bahwa makna penting dari pendidikan adalah menjadikan setiap pribadi siswa menjadi individu yang lebih baik dan lebih berguna bagi masyarakatnya (each individual student become better people and more useful to society).

Ivy League adalah sebuah asosiasi yang terdiri dari 8 universitas Amerika Serikat. Istilah “Ivy League” mempunyai konotasi kesempurnaan akademis dan elitisme akademis. Universitas-universitas yang tergabung dalam Ivy League di Amerika Serikat menghabiskan sebagian besar uang tidak pada kualitas SDM para pendidiknya tetapi pada fasilitas – fasilitas seperti kolam renang , asrama mewah dan infrastruktur mewah untuk dapat memikat siswa – siswa, yang membayar uang kuliah penuh . Bisa dibilang keseriusan para tenaga akademik di berbagai universitas negeri lainnya sangat rendah atau bahkan tidak ada. Hal inilah  yang  menyebabkan 68 persen mahasiswa di perguruan tinggi negeri tidak lulus dalam waktu empat tahun. Dan begitu mereka lulus, mereka juga harus siap menanggung beban untuk membayar pinjaman siswa (student loan) hingga ratusan ribu dollar Amerika.

Sutradara Andrew Rossi juga mengambil contoh di beberapa lembaga Universitas yang lebih kecil dimana para siswa memberikan nilai rapor yang baik seperti di Deep Springs College di daerah Death Valley dan Spelman College. Universitas Deep Springs College semua para siswanya adalah berjenis kelamin laki-laki sedangkan Spelman College untuk semua perempuan berkulit hitam. Dari interview dengan para siswa di di kampus ini menunjukkan bahwa mereka semakin berkembang sebagai individu dari sisi kemampuan dan ketrampilan. Mereka juga berkembang sebagai individu yang mudah beradaptasi, dapat menerima pendapat orang lain dan kritis dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Film ini juga menyorot krisis di Manhattan Cooper Union, dimana para siswa protes dari pelaksanaan kuliah dan menduduki kantor Rektor selama 65 hari, dikarenakan rencana pihak kampus untuk menghilangkan sekolah gratis.Pada awal sejarah sekolah didirikan oleh para pendirinya memang ditujukan untuk memberikan sekolah gratis (free education) bagi para siswa.  Namun seiring dengan berjalannya waktu sekolah ini mengalami defisit anggaran yang sangat besar dikarenakan beban bunga pinjaman yang besar untuk investasi gedung baru dan portofolio investasi surat berharga yang tidak mereka kuasai sama sekali.Pertanyaan yang membuat semua berpikir dari sang rektor adalah “Bukan gratisnya sekolah sebenarnya yang perlu kita perjuangkan, tapi siapa yang akan membayar operasional kampus ini, itu yang harus kita pikirkan”

Film ini adalah pukulan telak bagi mereka yang mengagungkan sistem pendidikan Amerika dan mati-matian berusaha meniru mereka. “Disaat sistem kapitalisme semakin kuat, maka rakyat menjadi korbannya”. Kalimat itu memang amat mewakili apa yang disuguhkan oleh Ivory Tower. Andrew Rossi melemparkan semua permasalahan yang menghantui higher education di Amerika Serikat, lengkap dengan sebab-akibat dan usaha untuk mengatasinya.

Kehebatan film ini adalah tidak adanya unsur keberpihakan pada salah satu pihak atau salah satu metode. Baik kampus maupun metode yang diperlihatkan disini tidak ada yang benar-benar baik. Selalu ada celah dibalik semua kelebihan yang hadir. Bahkan disaat sebuah metode sukses mencerdaskan mahasiswa, permasalahan kembali hadir saat para sarjana tidak punya kemampuan untuk menyelesaikan hal-hal keseharian.

Film Ivory Tower mengajak penontonnya mendengar penuturan dari mereka yang menjalani tiap-tiap metode pendidikan. Faktanya, pada setiap metode selalu ada yang menyebutkan bahwa pilihan mereka adalah sesuatu yang baik, positif dan memang berguna.Pada akhirnya memang film ini berkesimpulan bahwa setiap metode akan dikembalikan lagi pada masing-masing mahasiswa. Manakah yang memang cocok bagi mereka? Mana yang sesuai dengan kepribadian dan tujuan hidup yang mereka inginkan.

Kelebihan utama film ini jelas datanya yang begitu lengkap. Saya dibuat sanggup memahami segala fakta yang disajikan, membandingkannya satu sama lain tanpa perlu tersesat dan kebingungan hingga akhirnya membuat saya bisa menikmati proses berpikir, merenungkan sesungguhnya bentuk pendidikan mana yang paling baik.

Tapi Ivory Tower tidak hanya berisikan data tanpa jiwa, karena Andrew Rossi juga berhasil menyuntikkan banyak momen emosional, ada amarah hadir melihat kebusukan yang terjadi, ada juga rasa haru melihat bagaimana para mahasiswa memperjuangkan hak mereka yang direnggut.

 

Dengan menonton film dokumenter ini maka saya semakin yakin dengan apa yang pernah disampaikan Jack Ma dalam sharingnya “Don’t Complain, You Can Find Opportunities”. Dari berbagai permasalahan -permasalahan yang dimunculkan di film ini muncullah berbagai gagasan di dunia pendidikan. Diantaranya adalah “MOOC” (Massive Online Open Course), mulai dari Coursera , Udacity , sampai ke bentuk akademi komunitas Bunker Hill Community College dan Hackerhouse.

Di film ini kita juga  diajak belajar ke Silicon Valley dimana Peter Thiel (co founder Paypall) yang mengenalkan sebuah program  Thiel Fellowship yaitu program yang memberikan beasiswa  kepada anak-anak di bawah usia 20 th, mereka  ditantang untuk mendirikan perusahaan start up atau melakukan penelitian independen. Program ini memicu munculnya Uncollege , sebuah program pendidikan tinggi (dikti) dimana mahasiswa diminta untuk menentukan jalur belajarnya sendiri, menentukan minat, bakat mereka sebelum mengambil jalur mata kuliah dalam kehidupannya. Dengan harapan terciptalah sebuah dunia dimana pendidikan itu milik semua orang bukan milik kaum kapitalis sehingga pendidikan akan menjadi pendidikan yang memanusiakan manusia bukan lagi produk komoditi.

Makin penasaran dengan film ini? yuk lihat teasernya disini :

atau kalau mau melihat versi fullnya disini :

http://watch32.is/movie/qvoz7edl-ivory-tower.html

-Septi Peni Wulandani

Ini hasil belajar saya saat lihat Ivory Tower, bagaimana dengan hasil belajar anda baik saat melihat ivory tower maupun saat melihat film-film yang lain misal kungfu panda 3, matrix dll. Buat anda yang punya pencerahan lewat film silakan share hasil belajarnya dan kirim ke email septipeni@gmail.com. Akan segera saya posting disini, agar bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s