Seni Beberes Rumah Dengan Metode Konmari

 

“Membenahi rumah adalah resep ajaib untuk menciptakan kehidupan yang berwarna dan bahagia.” – Marie Kondo

Salah satu aktivitas yang paling saya sukai di rumah adalah beberes, mengeluarkan semua barang yang tersimpan, menyortirnya kemudian memutuskan untuk dipertahankan atau didonasikan.Ternyata proses ini bukanlah proses yang mudah, perlu ilmu untuk menjalankannya.

Salah satu ilmu tentang seni beberes rumah ini diperkenalkan oleh Marie Kondo dan diberi nama, KonMari. Keampuhan metode yang kini semakin marak diterapkan di Jepang dan telah dikemas dalam program televisi laris, “Tidy Up with KonMari!” ini, telah menular ke seluruh dunia. Saking ampuhnya, tak seorang pun klien Kondo kembali ke kebiasaan berantakan (dan calon kliennya harus masuk daftar tunggu selama tiga bulan).

Apakah selama ini anda juga merasakan hal yang sama dengan saya? Walaupun sudah susah payah merapikan rumah, apakah kertas-kertas terus saja bertumpuk dan pakaian harus terus Anda jejal-jejalkan ke lemari? Kenapa kita tidak bisa menjaga kerapian rumah? kalau jawabannya iya, mari kita belajar bersama.

Dalam bukunya ” The Life Changing Magic of Tidying Up” Marie kondo menegaskan bahwa beberes rumah bukan sekadar tata cara untuk memilih, mengorganisasi, dan menata barang melainkan juga panduan untuk memperbaiki pola pikir supaya kita bisa menciptakan keteraturan dan menjadi pribadi yang rapi.

Image result for tips tentang konmari

Perbedaan seni beres-beres KonMari dari metode berbenah lainnya adalah cara memulai dan memilah barang. Jika dalam seni berbenah yang lain, kita disarankan untuk berbenah sedikit demi sedikit, maka KonMari menegaskan untuk berbenah sekaligus.

Kemudian pilih barang bukan karena fungsinya atau bagus tidaknya melainkan yang paling utama adalah karena barang tersebut membangkitkan kegembiraan.

Itu sebabnya dalam metode KonMari, kita akan diminta untuk mengumpulkan seluruh benda dalam satu tumpukan berdasarkan jenis benda kemudian menyentuhnya satu persatu sambil bertanya, “Apakah buku ini  membangkitkan kegembiraan atau tidak?”. Jika ya, pertahankan. Jika tidak, maka singkirkan. Buang atau sumbangkan.

Berikut adalah checklist yang bisa kita jadikan panduan:

“Kriteria terbaik untuk memilih barang yang harus disimpan atau dibuang adalah sebagai berikut: apakah benda itu membuat Anda Bahagia atau tidak, menggembirakan Anda atau tidak.”

Hal menarik lain yang dikemukakan oleh Marie Kondo menyarankan kita untuk menyapa rumah dan barang. Ia menjelaskan bahwa dengan mengucapkan terima kasih kepada setiap benda yang akan disingkirkan, maka itu akan memberi dampak positif.

“Jika barang punya perasaan, ia pasti tidak senang disimpan terus oleh sang pemilik yang melupakannya. Bebaskanlah barang-barang tersebut dari penjaranya. Bantulah barang-barang itu untuk meninggalkan keterkungkungannya di antah-berantah. Ikhlaskan benda-benda tersebut dengan penuh terima kasih. Tidak hanya Anda, barang-barang Anda niscaya juga akan merasa segar dan jernih begitu Anda rampung berbenah”

Marie Kondo menjelaskan korelasi antara kegiatan berbenah dan dampaknya pada kehidupan. Bahwa ia melihat kliennya menjadi pribadi yang berbeda setelah selesai berbenah.  Banyak yang setelah berbenah menemukan hal baru tentang dirinya dan membantunya fokus untuk melakukan hal yang paling ingin ia kerjakan.

Hanya  Anda seorang yang tahu lingkungan seperti apa yang membuat Anda bahagia

Efek dari bebenah selain rumah kita rapi, juga banyak orang yang akan bahagia karena mendapatkan barang yang mereka perlukan selama ini. Mungkin barang-barang tersebut di rumah kita tidak bermanfaat, tapi justru bermanfaat apabila di keluarga lain.

Kalau ingin memberikan sesuatu, jangan memaksa orang lain untuk menerimanya atau menekan mereka hingga membuat mereka merasa bersalah apabila menolaknya. Cari tahu apa yang mereka sukai, kemudian jika dan hanya jika Anda menemukan sesuatu yang cocok dengan kriteria tersebut, barulah Anda boleh menunjukkan barang tersebut kepada mereka

Yang menjadi musuh utama kita dalam bebenah yaitu kenangan. Saya adalah termasuk tipe orang yang selalu sayang dengan benda yang pertama kali saya miliki.Sehingga menumpuklah benda-benda kenangan .

Menurut Marie Kondo

Yang harus kita hargai baik-baik bukanlah kenangan, melainkan diri kita yang sekarang. Pelajaran inilah yang mesti kita petik saat menyortir kenang-kenangan. Tempat yang kita tinggali saat ini adalah untuk diri kita yang sekarang, bukan diri kita yang ada pada masa lalu.” 

Maka ketika merapikan perpustakaan padepokan margosari, yang paling berat adalah melepas kenangan. setiap kali ketemu tulisan anak-anak, saya baca dulu satu persatu, sambil mengundang lagi rasa yang hadir saat itu. Maka saya taat dengan satu asas, yang membuat saya bahagia saya pertahankan yang tidak membuat saya bahagia saya buang.

Salah satu cara saya membuang adalah memfotonya dan menuliskannya satu persatu. agar secara emosional tetap hadir, tapi secara fisik sudah bisa hilang.

Dan akhirnya kami punya perpustakaan yang semakin tertata rapi, sehingga bisa lebih nyaman untuk membaca dan mencari buku-buku yang diperlukan

Image may contain: people sitting and indoor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s