BELAJAR DARI PERJALANAN ENES

“Sejatinya pendidikan itu adalah memandu anak-anak tumbuh sebagai generasi, bukan hanya sekedar mengejar prestasi. Generasi yang paham dengan segala misi spesifik hidupnya di muka bumi ini, karena mereka adalah “limited edition”.

Kalimat yang disarikan dari materi Abah Rama Royani saat mempelajari talents mapping ini sungguh indah.Saat mendapatkan ilmu ini beberapa tahun silam, saya berusaha memahami maksudnya dan segera menerapkan ke anak-anak.

Dimulai dari Enes Kusuma ketika usia 10 th sangat perhatian dengan lingkungan, kemudian mulai mengajak saya, jalan-jalan ke tempat pembuangan sampah, dia mengambil satu learning point :

“Ternyata Indonesia itu tidak punya sampah, hanya bahan baku yang belum diolah”

Setelah melihat issue sosial di sekitarnya maka muncullah Projek “SEMI” (Save The Earth More Intensive) yang mengantarkannya terpilih menjadi Young Changemaker Ashoka 2009.,

enes ycm

Pemberitaan Enes di Koran Jawa Pos, 2009

aktivitasnya bisa lihat disini

Di projek inilah mas Dodik Mariyanto sangat berperan, melatih struktur berpikir Enes, mulai dari gagasan yang ada di kepala sampai menjadi sebuah gerakan/produk. Sang bapak menjadi mentor untuk anak, memberikan biografi orang-orang yang bergerak di bidang “pendaur ulang sampah”, dan silaturahim langsung ke para ahli. Projek ini dijalaninya selama 4 th.Hingga usia 14 th. Saat mengerjakan projek dia melihat ilmu pengelolaan finansial yang masih kurang, shg memicu Enes untuk mengambil jurusan finansial saat kuliah.

enes YCM 1

Enes ( barisan kedua, di tengah) bersama para pemenang Young Changemaker Ashoka Foundation 2009

Apakah setelah menginjak aqil baligh dia bergelut di bidang persampahan? ternyata TIDAK, dia menemukan jati dirinya, ternyata menemukan keasyikan menjalankan peran sebagai arranger “penata ulang sebuah sistem perusahaan”. Mendapatkan mentor selain ayah ibunya, yaitu seorang maestro turn arounder asia pacific. Bagaimana cara menemukan mentor? mempersiapkan diri terus menerus, karena prinsipnya

“Murid siap, guru datang”

Ternyata mentor itu  ditemukan. Proses menemukannya itu yang seru. Terus berjalan dan berjalan, tidak pernah menyerah walau kadang lelah.

Jejak ilmu dan pengalaman yang dialaminya saat membuat projek di  usia 10-14 th memberikan prinsip dalam aktivitasnya sekarang : “Tidak ada sampah, yang ada hanya sesuatu yg belum diolah”,prinsip ini membuat Enes Kusuma berani membenahi hal baru , bahkan sesuatu yang hampir dibuang, dia tempatkan pada tempat yang tepat sehingga kembali bernilai.

“Struktur berpikirnya menjadi sangat kuat, ketrampilan ini membuatnya berani memulai hal baru, yang belum pernah ada”

Setelah 1,5 tahun ditempa oleh sang mentor, masuk kawah candradimuka dengan penuh tawa, air mata, kebahagiaan dan ketegangan,  akhirnya enes sekarang berani untuk membuat sendiri project usahanya di usia 19,5 th.  “Busana Eneska” sebuah pijakan awal tempat enes belajar, melahirkan hal baru, membuat sistem perusahaan, memadukan semua ketrampilan hidup, mengelola karyawan, memulai dari nol, membangun brand, menata finansial dll.

 

foto-utamadsc_2723

Busana Eneska

Perjalanan masih panjang, dan kami berdua sekarang menjadi penonton kisah kehidupan anak-anak, tanpa harus ikut campur.Selain busana eneska, enes juga sedang menggagas sebuah gerakan sosial #savesisulung dan #thebrightbride

profil-enes

Kadang dalam melihat bakat anak, kita terpaku dalam “bidang”, kita lupa pada “Peran” yang dipelajari anak saat itu.Kami belajar dari Enes, mengamati apa yang dia lakukan saat ini. Berganti-ganti bidang, mulai dari sampah, finansial, fashion, pendidikan keluarga, tapi ternyata di semua bidang tersebut Enes sedang menajamkan perannya sebagai arranger, penata semua elemen kehidupan sehingga menjadi harmony dalam keberagaman.

Maka apabila anak berganti-ganti mimpi saat usia pre aqil baligh itu adalah hal wajar, disitulah anak-anak berproses.Jangan buru-buru melabeli anak dengan aktivitasnya saat ini, karena aktivitas/projek hanya kendaraan anak untuk menempuh jalan suksesnya.

Tugas orangtua :

Pre Aqil Baligh:
Menemani jalan-jalan, mengeksplor bakat
menjadi fasilitator proses penemuan bakat anak
melatih struktur berpikir dengan menjalankan projek yang masih dipandu orangtua.

Aqil Baligh:
Biarkan anak menemukan jalan hidupnya sendiri, tanpa turut campur orangtua.Ijinkan anak mengerjakan projek kehidupannya sendiri sesuai passion dan talentsnya

Advertisements

One thought on “BELAJAR DARI PERJALANAN ENES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s